FEBI IAIN Ponorogo Gelar PBAK 2022 Tingkat Fakultas Secara Offline

Spread the love

Sebanyak 506 mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo, di depan Gedung FEBI, Kampus 2 IAIN Ponorogo, Jum’at (26/8). PBAK Fakultas ini memiliki suatu tujuan yang digunakan sebagai ajang untuk memperkenalkan budaya, etika, nilai dan norma akademik kampus. Selain itu, acara tersebut juga memperkenalkan lingkungan belajar, termasuk sarana dan prasarana, dosen dan tenaga kependidikan FEBI yang akan menjadi tempat para mahasiswa baru nantinya menuntut ilmu, ajang interaksi sosial, pengembangan kreativitas dan inovasi, serta sebagai tempat pengembangan kompetensi keahlian. Bapak Luthfi Hadi Aminudin, M.Ag., selaku Dekan FEBI dimana dalam sambutannya menjelaskan mengenai mentalitas seorang yang berilmu itu seperti yang tertera dalam surat Al-Mujadalah yaitu mereka yang memiliki ciri khas pandai membaca situasi dan kondisi, cerdas membaca zaman, cerdas membaca situasi dan juga selalu menajadi problem solver (yang selalu menjadi pemecah masalah di sekelilingnya). “Mentalitas seorang yang berilmu itu seperti yang tertera dalam surat Al-Mujadalah. Dimana ciri khas orang yang punya nalar keilmuan kritis dalam rangka mewujudkan moderasi beragama, maka ia akan bersifat elegan, tidak otoriter, santai dan itulah yang disebut di dalam Al-Qur’an. Jadi ciri khas orang yang berilmu yaitu pandai membaca situasi dan kondisi, cerdas membaca zaman, cerdas membaca situasi dan juga selalu menajdi problem solver (yang selalu menjadi pemecah masalah di sekelilingnya)” jelasnya.

Hal ini berkaitan dengan tema yang tertera pada PBAK FEBI 2022 yakni ‘Mewujudkan Interprestasi Nalar Kritis Mahasiswa FEBI Sebagai Digital Native Dalam Bingkai Moderasi Beragama’. Ketua Dema FEBI, Rahman Prasetyo mengungkap latar belakang pengambilan tema tersebut yaitu dengan mengaca pada keadaan mahasiswa dua tahun lalu. Latar belakang tema PBAK tahun 2022 dilihat dari keadaan mahasiswa 2 tahun lalu yg mengalami kuliah daring atau online, hal ini mengurangi intensitas mahasiswa dalam diskusi dan berargumen secara langsung. Dikatakan pula mahasiswa sang kaum intelektual dan dibarengi oleh  perkembangan teknologi yang sangat pesat atau sudah dikatakan sebagai digital. Bagaimana kita bisa menghidupkan dan menggunakan kembali nalar kritis mahasiswa dalam kehidupan kampus untuk menghadapi perkembangan digital tersebut. Karena dalam perkembangan digital tersebut banyak tersebar pamahaman-pemahaman radikal, selain itu juga terdapat tujuan besar dari Kemenag mengenai penguatan pemahaman di wilayah moderasi beragama. Oleh karena itu, kita harus bisa menggunakan nalar kritis sebagai kaum digital untuk menghadapi perkembangan teknologi dalam bingkai moderasi beragama,” ungkapnya.

Tia Rahmawati, mahasiswa baru jurusan Ekonomi Syariah memberikan tanggapan terkait pelaksanaan PBAK FEBI, bahwasanya mahasiswa baru dapat mengetahui jurusan-jurusan yang ada di FEBI dan informasi-informasi terkait perkuliahan yang ada di laman siakad. Selain itu, banyak perkenalan dari Dosen  dan jajarannya. “Mahasiswa baru bisa mengetahui jurusan-jurusan yang ada di FEBI, mahasiswa juga bisa mengetahui  informasi-informasi terkait yang ada di siakad, tadi kan sudah disampaikan oleh bapak Dekan juga. Mahasiswa bisa mencari informasi-informasi mengenai perkuliahan di laman tersebut dan juga banyak perkenalan dari bapak Dosen dan jajaranya,” ujarnya. Rahman Prasetyo juga menyampaikan harapanya terkait tema yang diambil untuk kegiatan PBAK FEBI ini, Ia berharap dengan tema ini kita dapat membentuk dan mewujudkan nalar kritis mahasiswa baru agar menjadi bekal untuk menempuh kehidupan mahasiswa. “Harapan besar dari tema ini yaitu mewujudkan nalar kritis mahasiswa baru, jadi sahabat-sahabat disini kita bentuk, kita wujudkan nalar kritisnya agar menjadi bekal dari sahabat-sahabat untuk menempuh menjadi mahasiswa nantinya, dengan cara menghidupkan kampus tercinta dengan lokus- lokus diskusi yg disitu mahasiswa bisa berdiskusi dimana pun mereka berada dengan teman-temannya. Mahasiswa juga harus bisa lebih aktif lagi dalam mengembangkan potensi mereka, entah dibidang minat bakat, akademis, maupun aktivis.harapnya. (shlza)