PERJALANAN DINAS: ANTARA WISATA GRATIS, MENGHABISKAN ATAU MEMANFAATKAN ANGGARAN

Spread the love


Oleh :
Dr. AJI DAMANURI, M.E.I.
Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Ponorogo

Frasa antara menghabiskan dan memanfaatkan dana adalah dua hal yang berbeda meskipun pada akhirnya habis juga. Itulah yang terbersit ketika level PPKM menurun dan anggaran perjalanan dinas mulai dibuka, akankah sekedar menghabiskan dana atau memanfaatkannya dalam waktu yang terbatas?

Hal pertama yang dilakukan dekanat FEBI adalah megidentifikasi dan memetakan kebutuhan akademis. Setelah beberapa kali diskusi dengan para kajur, sekjur, kabbag, kasubbag, dekan dan wakil dekan maka dibuatlah team studi banding dalam rangka memanfaatkan anggaran perjalanan dinas yang bermanfaat bagi kemajuan fakultas.

Akhirnya dibentuk lima tim: 1) tim pengelola jurnal bertugas belajar bagaimana pengelolaan lima jurnal FEBI agar naik level. 2) tim jurusan, dengan target belajar pengelolaan pada lembaga yang telah terakreditasi unggul dan memiliki kurikulum yang baik, 3) tim laboratorium, harus belajar bagaimana labolatorium yang telah dimiliki meningkat kinerjanya, bukan saja menjadi tempat workshop yang baik tetapi juga menghasilkan out put akademik yang jelas. 4) tim dekanat, memperluas jaringan dan kerjasama dengan Lembaga-lembaga ekonomi. Terakhir, 5) tim tendik, harus belajar bagaimana tata kelola layanan adminidstratif yang baik.

Masing-masing tim segera hunting destinasi lembaga yang akan dijadikan tempat studi. Pada perinsipnya lembaga yang dituju harus lebih baik, maju, unggul dan sebisa mungkin lintas satker atau perguruan tinggi umum supaya memperoleh perspektif dan pengalaman berbeda. Setelah beberapa hari hunting lembaga akhirnya masing-masing tim menemukan target yang sesuai kriteria.

Dalam pelaksanaannya, setiap tim selalu menulis berita di web fakultas, baik menyangkut substansi maupun serba-serbi kunjungan ilmiah tersebut. Tim produksi berita siap sedia memproses on the spot sesuai kiriman narasi dari peserta studi banding. Tim studi banding cukup berkonsentrasi pada kegiatan, karena semua hal terkait adminidstrasi sudah dilakukan oleh kabag dan kasubbag.

Setelah selesai studi banding dengan memanfaatkan anggaran perjalanan dinas, masing-masing tim diminta untuk membuat laporan dan rencana tindak lanjut yang dipaparkan dalam rapat fakultas supaya bisa diterapkan dalam rangka peningkatan mutu kampus yang unggul.

Idealnya sebuah perjalanan dinas supaya tidak terkesan hanya jalan-jalan dan menghabiskan anggaran paling tidak memperhatikan beberapa aspek berikut:

Pertama, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, apakah sebagai staff administrasi, kapala prodi, kepala jurusan, wakil dekan, dekan, wakil rektor, rektor, semua ada tarif dan porsi masing-masing. Penganggaran perjalanan dinas yang baik dibagi secara proporsional berdasar mapping dan keberadaan satker, berapa porsi untuk dosen menghadiri seminar, berapa porsi dekan menggunakan anggaran perjalanan dinas dianggarkan dengan baik supaya tidak habis pada satu pos saja. Artinya setiap orang tau posisinya karena perjalanan dinas yang normal sesuai dengan bidang kerjanya, meski ada beberapa orang beralibi bahwa kegiatan yang didatangi ada kaitan dengan pekerjaanya.

Kedua, skala prioritas. Tidak semua undangan harus dihadiri, tergantung pada tingkat kepentingannya, dibandingkan dengan agenda lain diinternal kampus. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada beberapa kegiatan dilakukan hanya untuk menghabiskan anggaran dan alasan rutinutas. Kecerdasan dalam menentukan pilihan merupakan bagian dari kebijaksanaan seorang pejabat.

Ketiga, Dampak dari perjalanan dinas. Apakah sebuah perjalanan yang dibiayai negara memberikan dampak nyata bagi perbaikan mutu akademis kampus atau tidak. Jika pejabatnya menghabiskan anggaran perjalanan dinas yang cukup banyak namun tidak memberikan efek signifikan bagi perbaikan kampus maka dapat dipastikan perjalanannya hanya sekedar hobi. Karenanya kita dituntut mengerti situasi dan kondisi, peta jalan yang jelas menuju visi dan misi, memiliki worldview terhadap masalah dengan spektrum yang luas, sehingga yang dibayangkan dari perjalanan dinas bukan indahnya tempat wisata namun apa yang akan dilakukan setelahnya.

Keempat, Perencanaan dan koordinasi. Perancanaan yang matang dan koordinasi internal satker mutlak dilakukan supaya perjalanan dinas bisa efektif dan efisien, karena menghabiskan uang dan memanfaatkannya adalah hal yang berbeda. Menjadi kurang bijak jika kondisi internal masih carut marut tapi malah ditinggal pergi untuk urusan yang bisa dinegosiasikan. Apalagi tidak ada job deskripsi yang jelas bagaimana koordinasi kerja ketika para pejabatnya sedang dinas luar.

Pertanggungjawaban perjalanan dinas tentu tidak diukur dari berkas-berkas adminidstrasi yang di SPJ kan, namun hasilnya. Alangkah indahnya jika setelah perjalanan dinas apa yang diperoleh ditulis dalam sebuah laporan, dimusyawarahkan dan ditindaklanjuti. Itulah pertanggungjawaban yang sesungguhnya. Karenanya memanfaatkan anggaran perjalanan dinas bisa menjadi problem solver dan bukan sebaliknya.

Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa dalam perjalanan dinas ada berkah ikutan yang didapat. Bertemu teman, mengunjungi saudara, mampir ke tempat wisata di sela-sela kegiatan, belanja oleh-oleh dan lain sebagainya. Maka jika perjalanan tidak menghasilkan apa-apa dan yang tanpak hanya postingan wisata, jangan salahkan jika orang lain memandang sebagai penyaluran hobi jalan-jalan yang dibiayai negara. AD.